Langsung ke konten utama

Prepare to Brunei Darussalam

        Ini sebagai tulisan pertama gua di Blog. Pada kesempatan kali ini gua akan share sedikit cerita gua saat melakukan perjalanan ke negeri sultan minyak yang memiliki beberapa masjid Ikonik dengan kubah emas yaitu negara Brunei Darussalam. Alhamdulillah setelah perjuangan sejak awal kuliah ingin merasakan menulis artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional, akhirnya bisa terwujud. Oke langsung aja ya.


Sebelumnya mohon maaf kalau tulisan gua berantakan karena sudah lama tidak menulis.


 Cerita bermula pada akhir tahun 2018, kala itu gua diajak membentuk tim oleh junior jurusan bernama Rizal untuk membuat artikel ilmiah. Singkat cerita terbentuklah tim yang terdiri dari 3 orang, diketuai oleh Rizal, kemudian gua dan teman gua satu departemen bernama Nisa. Pertemuan perdana diisi dengan berdiskusi dan mencari informasi Call For Paper International, akhirnya kami menemukan 2 informasi tersebut. Dengan rincian satu di Inggris (Kalau ga salah yang menyelenggarakan PPI Inggris di Durham University) dan satu lagi di Brunei diselenggarakan oleh School of Business and Economics alias “FEB-nya” Universiti Brunei Darussalam. Kami sepakat untuk mengirimkan abstrak ke kedua Call for Paper tersebut. Walaupun jujur cenderung berharap bisa dapet kesempatan lolos yang diselenggarakan oleh PPI UK, karena selalu penasaran dengan suasana Eropa, baik Pendidikan, masyarakat, iklim, budaya, teknologi dan lain-lainnya, juga bercita-cita bisa belajar disana atau bahkan tinggal disana hehe..😁

 

Setelah apply abstrak ke kedua Call For Paper tersebut pada akhir Januari 2019, sekitar sebulan kemudian yaitu akhir Februari 2019 dapet pengumuman kami dinyatakan lolos pada Call For Paper yang Brunei (acaranya bernama ICBEF 2019: International Conference of Business, Economics and Finance) ke tahap berikutnya mengumpulkan Full Paper dengan batas pengumpulan dan registrasi 1 Juni 2019. Satu sisi alhamdulillah, bersyukur karena berkesempatan bisa ke Brunei sebagai kesempatan perdana keluar negeri, tapi sisi lain tetap berharap yang dari PPI UK pengumuman pertengahan Maret. Tapi sembari menunggu, tetap kami mengerjakan artikel tersebut. Saat proses mengerjakan artikel tersebut, kami melibatkan bantuan banyak pihak, terutama senior untuk membimbing karya kami. Tapi jujur, diantara kita bertiga yang ngerjain lebih banyak itu Rizal karena ide utama berangkat dari dia hehe..😁

 

Jawaban atas harapan gua untuk bisa ke Eropa dengan lolos ke Call for Paper di UK harus ditunda, karena kami dinyatakan tidak lolos, rasanya sedih sih tapi tetap berharap dan berusaha hingga saat ini agar dapat kesempatan merasakan hidup disana. Alhamdulillah setelah berjibaku akhirnya kami dapat menyelesaikan artikel tersebut sekitar 2 pekan sebelum batas pengumpulan. Bersamaan dengan hal itu, kami juga perlu menyiapkan untuk registrasi. Registrasi dibedakan 2, Early Bird Payment dan Regular Payment. Bedanya apa? Intinya kalo Early Bird lebih dulu berbarengan submit full paper maksimal tgl 1 Juni dengan biaya 100 USD, sedangkan regular payment setelah tgl tersebut dengan biaya 2x lipatnya yaitu 200 USD. Secara nalar kemahasiswaan gua,tentu saja memilih early bird payment agar lebih bersahabat. Gilak aja harus bayar 2x lipat dengan fasilitas yang sama, belum lagi ketambahan tiket pesawat.

 

Diantara kami bertiga, Rizal yang paling excited dengan Brunei, katanya Brunei sebagai negara kecil tapi memiliki beragam keunikan yang menarik, salah satunya fakta bahwa negara yang menjalankan hukum-hukum Syariah sebagai landasan bernegera. Lalu kami pun membagi tiga tugas masing-masing: 1) Mengerjakan artikel dan menyiapkan bahan presentasi, oleh Rizal. 2) pemberkasan dan pengajuan proposal bantuan dana kampus ke birokrasi kampus, oleh Nisa (Fyi, dia anak Senat Mahasiswa jadi lebih paham soal birokrasi). 3) Menyiapkan akomodasi, mulai dari tiket, registrasi, menginap, transportasi, internet, destinasi wisata dan informasi pendukung lainnya.

 

Oke kita bahas satu-satu ya, tugas Rizal tentu saja menyelesaikan full paper alias artikel tersebut dengan judul Analysis of the Impact of Gold Credit Product Prohibition on the Society Interest in Using Islamic Banking Products yang dikerjakan secara kooperatif kepada kami, bahkan tak jarang melibatkan senior untuk memberikan saran dan kritik atas artikel tersebut. Selanjutnya tugas dari Nisa terkait pemberkasan dengan birokrasi kampus yang sudah paham terkait alur dan caranya untuk perizinan, pengajuan dan pencairan dana fakultas. Sudah ada gambaran kan ya terkait tugas dari Rizal dan Nisa, ga mudah memang tapi ga sulit juga karena secara spesialisasi mereka berdua menguasai sesuai jobdesc masing-masing, dan tentunya saya merasa bersyukur diberi tim yang kooperatif untuk bekerja sama saling membantu untuk kepentingan Bersama. Walaupun tentunya tetap ada rintangan tapi dengan komunikasi yang baik dapat dituntaskan secara bersama-sama.

 

Oh ya tugas gua tadi udah sempat disinggung ya, oke mari kita detailkan, karena ini bagian yang menarik (self claim hehe..😁). Pada intinya tugasku berkaitan dengan akomodasi, tapi akomodasi itu susah-susah gampang, artinya terlihat mudah tapi kalau dijabarkan ya ternyata beranak pinak hahaha. Biar seru kita bahas perpoin supaya kalian sebagai pembaca dapat informasi dari pengalamanku lebih banyak ya.

1)      Paspor

Hal dasar dan wajib harus ada kalo mau ke luar negeri, karena paspor itu ibarat KTP kita selama di luar negeri. So, karena ini menyangkut pribadi gua Cuma bisa menanyakan ketersediaan paspor dari Rizal dan Nisa. Cara buatnya gimana? Udah banyak yang lupa, karena emang udah lama buat tapi blm pernah dipakai, intinya buat di kantor Imigrasi Semarang, cari-cari infonya di Blog lain banyak kok hehe..

 

2)      Registrasi

Udah sempat disinggung di atas ya, well, Fee Registration kami early bird 100 USD sekitar Rp1,4 juta. Pembayaran melalui apa? Debit card VISA, untungnya kartu ATM Bank Mandiri itu VISA jadi pembayaran pake rekening gua.

 

3)      Penginapan

Nah ini menarik, awalnya kami kira biaya registrasi sudah termasuk penginapan 3D2N alias 3 hari 2 malam (walaupun ga yakin karena terlalu, pun jika itu di Indonesia), benar saja setelah dikonfirmasi panitia tidak termasuk akomodasi penginapan. Tapi panitia telah bekerjasama dengan The Centrepoint Hotel untuk penginapan peserta dengan biaya tambahan sekian Dolar Brunei (lupa berapa, cukup mahal untuk kantong mahasiswa seperti kami).

Oke, kalau gitu gua mencari opsi penginapan lain melalui berbagai aplikasi penginapan (seperti a*oda, pintumerah, o*o, dll). Setelah berselancar, biaya rata-rata penginapan sekitar 450rb permalam perkamar. Berhubung tim kami terdiri dari 2 cowok dan 1 cewek, maka tentu saja perlu 2 kamar yang berbeda. Sehingga anggaran yang diperlukan sekitar 2,7 jt, harga yang cukup fantastis bukan? Apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti kami. Oleh karena itu, kami diskusikan bersama untuk solusi tersebut, hingga Rizal menawarkan ide untuk melibatkan bantuan teman-teman PPI Brunei, yang pada saat itu diketuai oleh Mas Ilham mahasiswa S1 di Universitas Islam Sultan Sharif Ali, beliau dan satu teman perempuan mahasiswi Indonesia lainnya berkenan untuk memberikan tumpangan tempat tinggal di kosnya untuk kami.

 

4)      Tiket

Nah ini menarik, karena menjadi salah satu faktor pertimbangan saat memutuskan berangkat. Berhubung letak Brunei itu masih satu pulau dengan Kalimantan alias Borneo, sehingga menuju kesana selain perjalanan udara, ternyata ada juga perjalanan darat menggunakan Bus Damri dengan konsekuensi pemberangkatan juga dari Kalimantan, tapi karena ribet banyak transit kalau dari Jakarta alhasil opsi tersebut dicoret (detail perjalnaan Bus tersebut kurang tau, tapi menarik banget karena relasi Bus menempuh tiga Negara, Indonesia-Malaysia-Brunei, ingin sewaktu-waktu bisa merasakan perjalanan tersebut). Maka, best choice adalah menggunakan moda transportasi pesawat, ada beberapa maskapai rute Jakarta CGK – Brunei BWN, antara lain Royal Brunei, Garuda dan AirAsia. Oh ya, setelah membayar biaya registrasi selang 3 hari kami mendapat email diskon Royal Brunei, peluang menarik tapi tetap perlu melakukan komparasi.

Oke selanjutnya hunting tiket termurah, tentunya saat mencarinya dengan Mode Incognito biar ga terdeteksi kalau berkali-kali cari tau. Oh ya FYI, AirAsia hanya bisa diakses melalui websitenya. Didapatlah info harga tiket Jakarta CGK – Brunei BWN PP untuk 3 orang tanpa tambahan bagasi, Royal Brunei sekitar Rp7,5 Juta (sudah termasuk potongan diskon), Garuda Rp7,8 Juta dan AirAsia Rp6,8 Juta dengan catatan transit di KLIA 2. Setelah diskusi, kami memilih tiket termurah yaitu AirAsia walaupun harus transit haha…😅 Nah gua ngide tiket pulangnya ambil yang sore dengan durasi transit terlama 16 jam 45 menit dengan harapan saat perjalanan pulang bisa keluar airport untuk ke Kuala Lumpur sekedar lihat-lihat, eh ternyata pada setuju dengan usulan ide tersebut haha oke kita eksekusi bersama. AirAsia: Pergi 30 Juli 19, Pulang 4 Agustus 19 Rp6,8 Juta.

 

5)      Transportasi

Nah kalo ini ga kalah seru, berhubung moda transportasi utama masyarakat Brunei adalah mobil pribadi, alhasil fasilitas kendaraan umum terutama bis cukup terbatas. Oke informasi yang dibutuhkan adalah transportasi bandara ke penginapan, penginapan ke UBD (ternyata panitia menyediakan shuttle bus di Centrepoint Hotel), penginapan ke destinasi wisata dan penginapan ke Bandara. Berdasarkan informasi dari Blog-Blog orang lain, Brunei hanya memiliki 2 transportasi umum, yaitu bus kota dengan tiket yang murah tapi jadwalnya tidak pasti, cenderung sedikit armadanya dan taksi dengan biaya yang relatif mahal.

Berhubung keputusan ini cukup sulit karena baik bus kota maupun taksi, keduanya kurang tepat. Akhirnya Rizal memberanikan diri untuk meminta rekomendasi ke mas Ilham, namun diluar perkiraan, ternyata mas ilham secara sukarela menawarkan diri untuk memberikan akomodasi transportasi. Oke terima kasih lagi mas ilham.

 

6)      Makan

Ini hal penting nih, berhubung tingkat pendapatan masyarakat Brunei lebih tinggi dibanding Indonesia, alhasil secara umum biaya makan lebih mahal. Tapi ternyata di Brunei tersedia 1 menu khas subsidi oleh Sultan alias Pemerintah, bernama Nasi Katok. Yap itu bener namanya Nasi Katok kalo dari namanya sangat lucu karena dalam Bahasa Jawa katok berarti celana tapi bukan berarti ini nasi celana ya Hahaha..😆 tapi ternyata asal mula Katok itu katanya berasal dari proses orang dulu menjajakan nasi tersebut dengan mengetuk-ketuk pintu ke pintu alias door to door alhasil dinamakan Katok karena proses ketuk bunyinya Tok-Katok, keren ya ga kalah kalo disini mungkin abang bakso yang mangkoknya diting-tingin untung namanya bukan bakso ting-ting hahaha.. nah nasinya terdiri dari nasi dan lauk ayam beragam olahan seharga 1 Brunei Dollar BND kalo dirupiahin sekitar 10-11rb. Setelah mengetahui fakta tersebut, kami pun telah mendapat solusi untuk makan hahaha..

 

7)      Uang saku

Secara hitungan pasti tidak ada acuan baku, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal dari informasi Blog orang lain, kebutuhan makan, akomodasi, wisata, oleh-oleh, biaya tak terduga dan lain sebagainya, maka gua membuat range perkiraan uang saku yang perlu disiapkan per orang, yaitu sekitar Rp2 Juta untuk motif konsumsi dan berjaga-jaga.

 

8)      Destinasi wisata

Khusus bagian ini sebenernya ada banyak, tapi mengingat waktu terbatas alhasil hanya menentukan beberapa destinasi wisata ikonik. Mencatat beberapa destinasi yang kalau bisa gratis-gratis aja hehe seperti Masjid Sultan Ali Oemar Saifuddien (SOAS), Masjid Jami Hassanal Bolkiah, Royal Regalia Museum, dan Kampung Air. Saat mempersiapkan ini, sempat terbersit bisa mampir ke Kedubes Indonesia di Brunei, tapi semoga ada kesempatan.

 

9)      Perlengkapan Bersama

Ga banyak sebenernya peralatan Bersama, paling hanya hardcopy dan laptop untuk latihan presentasi dibawa oleh Rizal dan kamera untuk dokumentasi dibawa oleh gua. Selebihnya peralatan dan perlengkapan pribadi. Oh ya ditambah fasilitas akses internet, setelah cari-cari tau

 

Yak di atas pembahasan detail tugas yang gua kerjakan hehe..😅

Selebihnya paling seputar persiapan secara pribadi, mulai dari perlengkapan yang perlu dibawa dan cara bawanya, mental perjalanan mengikuti agenda ilmiah dan ke luar negeri perdana yang perlu disiapkan dan sejumlah uang saku yang dibawa. Secara umum perlengkapan yang dibawa harus seefektif dan efisien mungkin, karena keterbatasan maksimal bobot bagasi yang bisa masuk hanya 7 Kg. mulanya mau pakai koper, tapi batal karena bobot koper kosong udah 3 Kg ya kali jatah setengahnya cuma buat kopernya doang hahaha..😂 jadi tetap pakai tas punggung biasa walaupun sampe kepenuhan tapi dimuat-muatin aja, termasuk mempertimbangkan cairan yang bisa masuk kabin maksimal 100ml. selebihnya barang-barang pribadi atau yang penting seperti dompet, paspor, tiket, dan hp dikumpulkan di tempat aman dan terjangkau.

 

Lalu untuk mental, tentu saja dengan memperbanyak belajar dan mencari tau tentang budaya dan bahasa yang digunakan di Brunei. Nah untuk uang saku, gua menganggarkan dari tabungan pribadi selama kuliah sekitar Rp2 Juta, setelah menghubungi sekitar 5 Money Changer di Bekasi demi mencari kurs jual termurah hehe..😅 kala itu kurs jual termurah sekitar 11 ribu sekian, namun dengan anggaran uang Rp2 Juta seharusnya jika dikonversikan bisa dapat sekitar 180 BND tetapi, sayangnya stok BND di Money Changer tersebut hanya 170. Awalnya sisanya mau tukar Singapore Dollar SGD karena informasi yang diperoleh pemerintah Brunei menyatakan BND dengan SGD setara dan berlaku untuk transaksi tapi berhubung belum yakin alhasil mengurungkan tukar SGD, hanya 170 BND saja, tentu saja dengan syarat KTP saat penukaran.

 

Setelah segala persiapan repot begini begitu yang bikin sok sibuk haha..😂 akhirnya kami melakukan perjalanan keberangkatan melalui Bandara Soekarno Hatta, saya berangkat dari Bekasi karena sepekan sebelum berangkat menyempatkan pulang ke rumah, Rizal dari tempat pakdenya sempat nginep satu malam, dan Nisa sampai setelah menyambung perjalanan kereta semalemnya dari Semarang. Jadwal pesawat take-off pukul 8.35, kamipun menyepakati maksimal pukul 7 sudah tiba di pintu departure Terminal 2. Walaupun sempat miskom nyari-nyari akhirnya bisa ketemu dan kami pun melanjutkan perjalanan hingga 6 hari kemudian.

 

Cerita kelanjutan saat di Brunei menyusul ya..

 

 

Komentar

Posting Komentar