Ini sebagai tulisan pertama gua di Blog. Pada kesempatan kali ini gua akan share sedikit cerita gua saat melakukan perjalanan ke negeri sultan minyak yang memiliki beberapa masjid Ikonik dengan kubah emas yaitu negara Brunei Darussalam. Alhamdulillah setelah perjuangan sejak awal kuliah ingin merasakan menulis artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional, akhirnya bisa terwujud. Oke langsung aja ya.
Sebelumnya mohon maaf kalau tulisan gua berantakan karena sudah lama tidak menulis.
Setelah apply abstrak ke kedua
Call For Paper tersebut pada akhir Januari 2019, sekitar sebulan
kemudian yaitu akhir Februari 2019 dapet pengumuman kami dinyatakan lolos pada Call
For Paper yang Brunei (acaranya bernama ICBEF 2019: International Conference
of Business, Economics and Finance) ke tahap berikutnya mengumpulkan Full
Paper dengan batas pengumpulan dan registrasi 1 Juni 2019. Satu sisi
alhamdulillah, bersyukur karena berkesempatan bisa ke Brunei sebagai kesempatan
perdana keluar negeri, tapi sisi lain tetap berharap yang dari PPI UK
pengumuman pertengahan Maret. Tapi sembari menunggu, tetap kami mengerjakan
artikel tersebut. Saat proses mengerjakan artikel tersebut, kami melibatkan
bantuan banyak pihak, terutama senior untuk membimbing karya kami. Tapi jujur,
diantara kita bertiga yang ngerjain lebih banyak itu Rizal karena ide utama
berangkat dari dia hehe..😁
Jawaban atas harapan gua untuk bisa
ke Eropa dengan lolos ke Call for Paper di UK harus ditunda, karena kami
dinyatakan tidak lolos, rasanya sedih sih tapi tetap berharap dan berusaha
hingga saat ini agar dapat kesempatan merasakan hidup disana. Alhamdulillah setelah
berjibaku akhirnya kami dapat menyelesaikan artikel tersebut sekitar 2 pekan
sebelum batas pengumpulan. Bersamaan dengan hal itu, kami juga perlu menyiapkan
untuk registrasi. Registrasi dibedakan 2, Early Bird Payment dan Regular
Payment. Bedanya apa? Intinya kalo Early Bird lebih dulu berbarengan
submit full paper maksimal tgl 1 Juni dengan biaya 100 USD, sedangkan regular
payment setelah tgl tersebut dengan biaya 2x lipatnya yaitu 200 USD. Secara
nalar kemahasiswaan gua,tentu saja memilih early bird payment agar lebih
bersahabat. Gilak aja harus bayar 2x lipat dengan fasilitas yang sama, belum
lagi ketambahan tiket pesawat.
Diantara kami bertiga, Rizal yang
paling excited dengan Brunei, katanya Brunei sebagai negara kecil tapi memiliki
beragam keunikan yang menarik, salah satunya fakta bahwa negara yang
menjalankan hukum-hukum Syariah sebagai landasan bernegera. Lalu kami pun membagi
tiga tugas masing-masing: 1) Mengerjakan artikel dan menyiapkan bahan
presentasi, oleh Rizal. 2) pemberkasan dan pengajuan proposal bantuan dana kampus
ke birokrasi kampus, oleh Nisa (Fyi, dia anak Senat Mahasiswa jadi lebih paham
soal birokrasi). 3) Menyiapkan akomodasi, mulai dari tiket, registrasi,
menginap, transportasi, internet, destinasi wisata dan informasi pendukung
lainnya.
Oke kita bahas satu-satu ya, tugas Rizal
tentu saja menyelesaikan full paper alias artikel tersebut dengan judul Analysis
of the Impact of Gold Credit Product Prohibition on the Society Interest in
Using Islamic Banking Products yang dikerjakan secara kooperatif kepada
kami, bahkan tak jarang melibatkan senior untuk memberikan saran dan kritik
atas artikel tersebut. Selanjutnya tugas dari Nisa terkait pemberkasan dengan
birokrasi kampus yang sudah paham terkait alur dan caranya untuk perizinan,
pengajuan dan pencairan dana fakultas. Sudah ada gambaran kan ya terkait tugas
dari Rizal dan Nisa, ga mudah memang tapi ga sulit juga karena secara
spesialisasi mereka berdua menguasai sesuai jobdesc masing-masing, dan tentunya
saya merasa bersyukur diberi tim yang kooperatif untuk bekerja sama saling membantu untuk kepentingan
Bersama. Walaupun tentunya tetap ada rintangan tapi dengan komunikasi yang baik
dapat dituntaskan secara bersama-sama.
Oh ya tugas gua tadi udah sempat
disinggung ya, oke mari kita detailkan, karena ini bagian yang menarik (self
claim hehe..😁). Pada intinya tugasku berkaitan dengan akomodasi, tapi akomodasi
itu susah-susah gampang, artinya terlihat mudah tapi kalau dijabarkan ya
ternyata beranak pinak hahaha. Biar seru kita bahas perpoin supaya kalian
sebagai pembaca dapat informasi dari pengalamanku lebih banyak ya.
1) Paspor
Hal
dasar dan wajib harus ada kalo mau ke luar negeri, karena paspor itu ibarat KTP
kita selama di luar negeri. So, karena ini menyangkut pribadi gua Cuma bisa
menanyakan ketersediaan paspor dari Rizal dan Nisa. Cara buatnya gimana? Udah
banyak yang lupa, karena emang udah lama buat tapi blm pernah dipakai, intinya
buat di kantor Imigrasi Semarang, cari-cari infonya di Blog lain banyak kok
hehe..
2) Registrasi
Udah
sempat disinggung di atas ya, well, Fee Registration kami early bird 100
USD sekitar Rp1,4 juta. Pembayaran melalui apa? Debit card VISA, untungnya
kartu ATM Bank Mandiri itu VISA jadi pembayaran pake rekening gua.
3) Penginapan
Nah
ini menarik, awalnya kami kira biaya registrasi sudah termasuk penginapan 3D2N
alias 3 hari 2 malam (walaupun ga yakin karena terlalu, pun jika itu di
Indonesia), benar saja setelah dikonfirmasi panitia tidak termasuk akomodasi
penginapan. Tapi panitia telah bekerjasama dengan The Centrepoint Hotel untuk
penginapan peserta dengan biaya tambahan sekian Dolar Brunei (lupa berapa,
cukup mahal untuk kantong mahasiswa seperti kami).
Oke, kalau gitu gua mencari opsi penginapan lain melalui berbagai aplikasi penginapan (seperti a*oda, pintumerah, o*o, dll). Setelah berselancar, biaya rata-rata penginapan sekitar 450rb permalam perkamar. Berhubung tim kami terdiri dari 2 cowok dan 1 cewek, maka tentu saja perlu 2 kamar yang berbeda. Sehingga anggaran yang diperlukan sekitar 2,7 jt, harga yang cukup fantastis bukan? Apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti kami. Oleh karena itu, kami diskusikan bersama untuk solusi tersebut, hingga Rizal menawarkan ide untuk melibatkan bantuan teman-teman PPI Brunei, yang pada saat itu diketuai oleh Mas Ilham mahasiswa S1 di Universitas Islam Sultan Sharif Ali, beliau dan satu teman perempuan mahasiswi Indonesia lainnya berkenan untuk memberikan tumpangan tempat tinggal di kosnya untuk kami.
4) Tiket
Nah
ini menarik, karena menjadi salah satu faktor pertimbangan saat memutuskan
berangkat. Berhubung letak Brunei itu masih satu pulau dengan Kalimantan alias
Borneo, sehingga menuju kesana selain perjalanan udara, ternyata ada juga
perjalanan darat menggunakan Bus Damri dengan konsekuensi pemberangkatan juga
dari Kalimantan, tapi karena ribet banyak transit kalau dari Jakarta alhasil
opsi tersebut dicoret (detail perjalnaan Bus tersebut kurang tau, tapi menarik
banget karena relasi Bus menempuh tiga Negara, Indonesia-Malaysia-Brunei, ingin
sewaktu-waktu bisa merasakan perjalanan tersebut). Maka, best choice
adalah menggunakan moda transportasi pesawat, ada beberapa maskapai rute Jakarta
CGK – Brunei BWN, antara lain Royal Brunei, Garuda dan AirAsia. Oh ya, setelah
membayar biaya registrasi selang 3 hari kami mendapat email diskon Royal
Brunei, peluang menarik tapi tetap perlu melakukan komparasi.
Oke selanjutnya hunting tiket termurah, tentunya saat mencarinya dengan Mode Incognito biar ga terdeteksi kalau berkali-kali cari tau. Oh ya FYI, AirAsia hanya bisa diakses melalui websitenya. Didapatlah info harga tiket Jakarta CGK – Brunei BWN PP untuk 3 orang tanpa tambahan bagasi, Royal Brunei sekitar Rp7,5 Juta (sudah termasuk potongan diskon), Garuda Rp7,8 Juta dan AirAsia Rp6,8 Juta dengan catatan transit di KLIA 2. Setelah diskusi, kami memilih tiket termurah yaitu AirAsia walaupun harus transit haha…😅 Nah gua ngide tiket pulangnya ambil yang sore dengan durasi transit terlama 16 jam 45 menit dengan harapan saat perjalanan pulang bisa keluar airport untuk ke Kuala Lumpur sekedar lihat-lihat, eh ternyata pada setuju dengan usulan ide tersebut haha oke kita eksekusi bersama. AirAsia: Pergi 30 Juli 19, Pulang 4 Agustus 19 Rp6,8 Juta.
5) Transportasi
Nah
kalo ini ga kalah seru, berhubung moda transportasi utama masyarakat Brunei
adalah mobil pribadi, alhasil fasilitas kendaraan umum terutama bis cukup terbatas.
Oke informasi yang dibutuhkan adalah transportasi bandara ke penginapan,
penginapan ke UBD (ternyata panitia menyediakan shuttle bus di Centrepoint
Hotel), penginapan ke destinasi wisata dan penginapan ke Bandara. Berdasarkan
informasi dari Blog-Blog orang lain, Brunei hanya memiliki 2 transportasi umum,
yaitu bus kota dengan tiket yang murah tapi jadwalnya tidak pasti, cenderung
sedikit armadanya dan taksi dengan biaya yang relatif mahal.
Berhubung keputusan ini cukup sulit karena baik bus kota maupun taksi, keduanya kurang tepat. Akhirnya Rizal memberanikan diri untuk meminta rekomendasi ke mas Ilham, namun diluar perkiraan, ternyata mas ilham secara sukarela menawarkan diri untuk memberikan akomodasi transportasi. Oke terima kasih lagi mas ilham.
6) Makan
Ini
hal penting nih, berhubung tingkat pendapatan masyarakat Brunei lebih tinggi
dibanding Indonesia, alhasil secara umum biaya makan lebih mahal. Tapi ternyata
di Brunei tersedia 1 menu khas subsidi oleh Sultan alias Pemerintah, bernama
Nasi Katok. Yap itu bener namanya Nasi Katok kalo dari namanya sangat lucu
karena dalam Bahasa Jawa katok berarti celana tapi bukan berarti ini nasi
celana ya Hahaha..😆 tapi ternyata asal mula Katok itu katanya berasal dari
proses orang dulu menjajakan nasi tersebut dengan mengetuk-ketuk pintu ke pintu
alias door to door alhasil dinamakan Katok karena proses ketuk bunyinya
Tok-Katok, keren ya ga kalah kalo disini mungkin abang bakso yang mangkoknya
diting-tingin untung namanya bukan bakso ting-ting hahaha.. nah nasinya terdiri
dari nasi dan lauk ayam beragam olahan seharga 1 Brunei Dollar BND kalo
dirupiahin sekitar 10-11rb. Setelah mengetahui fakta tersebut, kami pun telah
mendapat solusi untuk makan hahaha..
7) Uang saku
Secara
hitungan pasti tidak ada acuan baku, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal
dari informasi Blog orang lain, kebutuhan makan, akomodasi, wisata, oleh-oleh,
biaya tak terduga dan lain sebagainya, maka gua membuat range perkiraan uang
saku yang perlu disiapkan per orang, yaitu sekitar Rp2 Juta untuk motif
konsumsi dan berjaga-jaga.
8) Destinasi wisata
Khusus
bagian ini sebenernya ada banyak, tapi mengingat waktu terbatas alhasil hanya
menentukan beberapa destinasi wisata ikonik. Mencatat beberapa destinasi yang
kalau bisa gratis-gratis aja hehe seperti Masjid Sultan Ali Oemar Saifuddien
(SOAS), Masjid Jami Hassanal Bolkiah, Royal Regalia Museum, dan Kampung Air.
Saat mempersiapkan ini, sempat terbersit bisa mampir ke Kedubes Indonesia di
Brunei, tapi semoga ada kesempatan.
9) Perlengkapan Bersama
Ga
banyak sebenernya peralatan Bersama, paling hanya hardcopy dan laptop untuk
latihan presentasi dibawa oleh Rizal dan kamera untuk dokumentasi dibawa oleh
gua. Selebihnya peralatan dan perlengkapan pribadi. Oh ya ditambah fasilitas
akses internet, setelah cari-cari tau
Yak di atas pembahasan detail tugas yang gua
kerjakan hehe..😅
Selebihnya paling seputar persiapan secara
pribadi, mulai dari perlengkapan yang perlu dibawa dan cara bawanya, mental
perjalanan mengikuti agenda ilmiah dan ke luar negeri perdana yang perlu
disiapkan dan sejumlah uang saku yang dibawa. Secara umum perlengkapan yang
dibawa harus seefektif dan efisien mungkin, karena keterbatasan maksimal bobot
bagasi yang bisa masuk hanya 7 Kg. mulanya mau pakai koper, tapi batal karena
bobot koper kosong udah 3 Kg ya kali jatah setengahnya cuma buat kopernya doang
hahaha..😂 jadi tetap pakai tas punggung biasa walaupun sampe kepenuhan tapi
dimuat-muatin aja, termasuk mempertimbangkan cairan yang bisa masuk kabin
maksimal 100ml. selebihnya barang-barang pribadi atau yang penting seperti
dompet, paspor, tiket, dan hp dikumpulkan di tempat aman dan terjangkau.
Lalu untuk mental, tentu saja dengan
memperbanyak belajar dan mencari tau tentang budaya dan bahasa yang digunakan
di Brunei. Nah untuk uang saku, gua menganggarkan dari tabungan pribadi selama
kuliah sekitar Rp2 Juta, setelah menghubungi sekitar 5 Money Changer di Bekasi
demi mencari kurs jual termurah hehe..😅 kala itu kurs jual termurah sekitar 11
ribu sekian, namun dengan anggaran uang Rp2 Juta seharusnya jika dikonversikan
bisa dapat sekitar 180 BND tetapi, sayangnya stok BND di Money Changer tersebut
hanya 170. Awalnya sisanya mau tukar Singapore Dollar SGD karena informasi yang
diperoleh pemerintah Brunei menyatakan BND dengan SGD setara dan berlaku untuk
transaksi tapi berhubung belum yakin alhasil mengurungkan tukar SGD, hanya 170
BND saja, tentu saja dengan syarat KTP saat penukaran.
Setelah segala persiapan repot begini begitu
yang bikin sok sibuk haha..😂 akhirnya kami melakukan perjalanan keberangkatan melalui
Bandara Soekarno Hatta, saya berangkat dari Bekasi karena sepekan sebelum
berangkat menyempatkan pulang ke rumah, Rizal dari tempat pakdenya sempat
nginep satu malam, dan Nisa sampai setelah menyambung perjalanan kereta semalemnya
dari Semarang. Jadwal pesawat take-off pukul 8.35, kamipun menyepakati
maksimal pukul 7 sudah tiba di pintu departure Terminal 2. Walaupun
sempat miskom nyari-nyari akhirnya bisa ketemu dan kami pun melanjutkan
perjalanan hingga 6 hari kemudian.
Cerita kelanjutan saat di Brunei menyusul ya..
Leh uga
BalasHapus